pic by rebubble.com
Tak terasa sudah begitu jauh hari
berganti, menyaksikan tawa dan tangis yang tak terhitung jumlahnya, untuk apa?
Bahkan hingga detik ini aku belum tau. Aku berjalan perlahan di trotoar depan
kampus bersama letih yang tak kunjung hilang, menjinjing tas tangan yang penuh
dengan buku dan tugas-tugas. Dari kejauhan tampak seseorang berjalan menujuku
dan tidak hanya itu, ia melambaikan tangannya kepadaku. Ia tersenyum lebar hingga giginya yang
berkawat mengagetkanku, pada awalnya aku tidak yakin dan aku mengira bahwa aku
sedang bermimpi, ternyata ia mencubit pipiku dan menyadarkanku bahwa aku tidak
sedang bermimpi. Sedang apa dia disini? Mau apa dia denganku? Bukankah ia sudah
lupa denganku? Bahkan aku berpikir kalau dia tidak ingat lagi siapa namaku.
Terakhir aku ingat sudah lama
sekali, aku mendapatkan nomor telepon rumahnya dari salah seorang sahabatku,
sahabat terbaikku. Ia mendapatkannya dari kantor sekolah saat ia sedang menemui
wali kelasnya. Aku kegirangan sampai-sampai lupa jika aku masih menginjakkan
kaki di atas tanah, aku merasa sayapku mengembang dan aku hendak terbang.
Bahagiaku tak tertahan ketika memegang secarik kertas bertuliskan angka-angka
yang menurutku ajaib. Pikiranku bahkan sudah terbang hingga aku lupa apa yang
akan aku lakukan dengan angka-angka ini. Sepulang sekolah, sesuai saran
sahabatku aku langsung menuju meja telepon tanpa melepas seragam. Aku menekan
tuts-tuts mengikuti angka yang tertulis di kertas, suara tuuuut tuuuut
tuuuuut banyak sekali hingga pada akhirnya tidak ada jawaban. Sebelum
mencoba kedua kali, aku terlebih dahulu melepas seragam dan menggantinya. Aku
mencoba menghubunginya kembali hingga pada akhirnya seorang perempuan
mengangkat teleponnya dan ia bertanya siapa aku lalu siapa yang aku cari.
Berburu-buru aku menjawab tanpa menyebutkan siapa namaku, aku mencari dia. Wanita itu kemudian berteriak memanggilnya, hatiku
ikut berteriak meneriaki namanya juga meneriaki kebodohanku. Aku tergeming,
kaku ketika mendengar suaranya yang serak-serak basah, lama ia bertanya-tanya
siapa aku tanpa aku menjawabnya, kemudian teleponnya ditutup setelah aku
menganga, aku semakin mengutuk kebodohanku.
