Pada
abad-7 M, pemerintah Bani Umayyah melakukan ekspansi ke wilayah Spanyol melalui
Afrika Utara. Dalam proses penaklukan wilayah-wilayah di Spanyol, terdapat 3
(tiga) pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling berjasa memimpin satuan
pasukan-pasukan dalam penaklukan tersebut. Salah satu dari Pahlawan Islam dalam
penaklukan wilayah Spanyol tersebut adalah Thariq Bin Ziyad.[1] Thariq Bin Ziyad adalah
seorang pemeluk Islam yang tangguh dari Afrika yang lahir pada 50 H (670 M).
Thariq Bin Ziyad lebih banyak dikenal sebagai penakluk Spanyol karena
pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata dibandingkan dengan penakluk
lain.
Tampilkan postingan dengan label Essay. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Essay. Tampilkan semua postingan
Rabu, 04 Januari 2017
Kamis, 11 Juni 2015
Sejarah Perkembangan, Teori, Serta Pendekatan Ilmu Politik
Zoon Politicoon adalah kata diberikan Aristoteles untuk menggambarkan manusia. Zoon politicoon dapat diartikan menjadi mahluk monodualis yang jika diartikan lebih luas lagi adalah manusia adalah mahluk sosial, walaupun pada dasarnya mereka adalah mahluk individu. Akan tetapi secara naluriah, mereka saling membutuhkan satu dengan lainnya. Karena itulah dapat diambil kesimpulan bahwa manusia adalah mahluk sosial yang hidup berkelompok untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehingga mereka saling terkait satu dengan lainnya dan menciptakan siklus sikap saling membutuhkan.
Jumat, 08 Mei 2015
Esai : Revitalisasi Sejarah Identitas Nasional
Pancasila adalah ideologi yang menjadikan bangsa Indonesia dulu, kini, dan nanti tetap berada pada satu garis haluan. Indonesia adalah negara kepulauan yang besar dengan heterogenitas yang tinggi. Suku, agama, dan ras yang beragam menjadikan Indonesia kaya akan budaya, jika tidak memiliki satu haluan yang sama, kemungkinan besar perpecahan akan sangat mudah terjadi. Para pendiri bangsa sekali lagi “menyelamatkan” bangsa ini melalui pemikiran-pemikiran yang jenius setelah perjuangannya melawan penjajah. Sebelum lahirnya pancasila, terdapat dialog-dialog serta diskusi-diskusi demi terancang dan terciptanya sebuah pegangan hidup yang berdasar pada kepribadian bangsa, maka pada 1 Juni 1945, Ir. Soekarno mengusulkan dasar negara yang terdiri dari 5 sila dengan istilah Pancasila.
Sebagai warga negara yang mencintai
bangsa dan negaranya, sudah seharusnya kita menjiwai butir-butir pancasila dan
mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dan
pemerintah hendaknya melembagakan nilai-nilai tersebut agar sejalan dengan
tujuan yang ingin dicapai, serta yang terpenting adalah jangan sampai salah
menafsirkan pancasila hanya sebagai asas tunggal. Hal ini terjadi pada masa
orba, ketika itu pancasila tetap pada rumusannya pada saat dirumuskan, hanya saja
penafsiran sendiri dengan
menjadikannya asas tunggal sehingga banyak organisasi politik atau organisasi
masyarakat tidak boleh memakai ciri khas ideologi untuk lingkungannya. Hal ini
tentu saja terkesan pancasila hanya milik satu organisasi politik atau
organisasi masyarakat saja, atau juga bisa dikatakan hanya milik penguasa saja.
Pemahaman demi pemahaman terhadap
penerapan butir-butir pancasila harus selalu digiatkan dalam pendidikan formal
maupun pendidikan non-formal. Banyak sekali penyimpangan-penyimpangan yang
terjadi mengatasnamakan
pancasila kepentingan bersama, bahkan sampai ada yang beranggapan bahwa pancasila sudah tidak relevan lagi
untuk digunakan bangsa indonesia saat ini. Meskipun sejak pembentukan pancasila
banyak juga polemik yang terjadi antara penganut aliran islam-formal dengan
kalangan nasionalis-sekuler, perdebatan ini cukup lama hingga pada 1968 dengan
keluarnya inpres 12 menegaskan bahwa pancasila yang berlaku berdasarkan Dekrit
presiden 5 Juli 1959 itu adalah pancasila sebagaimana tercantum dalam
UUD 1945 yang disahkan oleh PPKI 18 Agustus 1945. Meskipun demikian, pancasila
mampu mempertahankan eksistensinya sebagai ideologi bangsa dan dengan
nilai-nilai yang berkesesuaian dengan agama dan budaya yang dianut bangsa
Indonesia sejak dulu. Selain itu, hal ini menjadi bukti bahwa pancasila tidak
dibuat oleh seorang atau segolongan saja, melainkan karya bersama.
Selasa, 14 Oktober 2014
Demokratisasi Demokrasi
Sesuai dengan denifini yang diungkapkan oleh Philipp C. Schmitter tentang demokrasi yaitu suatu sistem pemerintahan dimana pemerintah dimintai tanggung jawab atas tindakan-tindakannya di wilayah publik oleh warga negara, yang bertindak secara tidak langsung melalui kompetisi dan kerja sama dengan wakil-wakil mereka yang telah terpilih. Indonesia telah mempraktikannya sejak reformasi, padahal sejak lama Indonesia telah mengenal yang namanya demokrasi, hanya saja demokrasi yang diberikan label tambahan yang hanya terbukti sebagai label saja tanpa adanya praktik demokrasi secara benar. Selain itu ada enam norma dalam demokrasi, yaitu kesadaran akan prularisme, musyawarah, cara yang sejalan dengan tujuan, kejujuran dalam kemufakatan, kebebasan nurani dan persamaan hak kewajiban, serta trial and error.
Indonesia telah berusaha menjalankan
norma-norma yang ada dalam mempraktikan demokrasi, berpegang pada tiga prinsip
demokrasi, yaitu pemerintah dari rakyat yang mendapat pengakuan rakyat,
pemerintah oleh rakyat yang menjalankan kekuasaannya atas nama rakyat, lalu
pemerintahan untuk rakyat yang kekuasaannya harus dijalankan untuk kepentingan
rakyat. Indonesia pada nyatanya belum sepenuhnya menjalankan norma atau unsur
pokok yang dibutuhkan dalam tatanan mayarakat yang demokratis. Tetapi tidak
dapat dipungkiri bahwa memang demokrasi adalah cocok digunakan dalam tatanan
masyarakat Indonesia. Polemik yang ada dalam perpolitikan Indonesia sendiri
memang tidak diteliti secara mendalam, hanya berdasarkan kekecewaan terhadap
kekuasaan orde baru yang cenderung berlebihan dan menyalahgunakan kekuasaan, maka di rombaklah sistem
demokrasi dengan menjadikan pemilihan langsung menjadi tidak langsung. Padahal
jika dilihat kembali, tidak ada yang salah dalam sistem tersebut, kesalahan
lebih kepada manusia yang menjalankannya.
Namun semua ini tidaklah salah, karena
dalam demokrasi sendiri terdapat trial
and error yaitu mencoba dan salah, ketika pemerintah membuat kebijakan
seperti yang ada pada paragraf sebelumnya, lalu saat kedepannya terjadi
kesalahan dalam peraturan yang dibuat maka diubahlah peraturan tersebut dengan
peraturan lain yang diajukan oleh pemerintah baru yang dipilih pada saat itu.
Sebenarnya memang ketika kita mencoba hal baru lalu gagal, kita telah
mendewasakan sistem kita dengan mengambil pelajaran dari kesalahan sebelumnya,
tetapi pada kenyataannya, trial and error
yang ada di Indonesia sekarang seolah tidak memiliki konsep yang jelas dan
tidak pasti.
Menurut hemat saya, kegagalan dalam
mencoba kebijakan terletak dari
Rabu, 01 Oktober 2014
Polemik Ideologi Sempurna
Pancasila dengan segala keistimewaannya masih tetap menjadi kebanggaan Bangsa Indonesia meskipun polemik dalam hal pelaksanaannya masih menjadi bukti bahwa masyarakat dan pemerintah harus terus introspeksi dan sadar akan rasa tanggung jawab bernegara. Jika ada yang bertanya mengapa Indonesia tidak menggunakan ideologi komunis atau liberal? Tentu jawabannya adalah Pancasila selain ideologi yang mencerminkan kepribadian bangsa juga mengambil segala kebaikan yang ada pada ideologi-ideologi didunia seperti misalnya komunis-liberalis dan lain sebagainya. Kelahiran pancasila pada 1 Juni 1945 menurut saya adalah hari lahir “redaksi baru Pancasila” bukan arti “pancasila” itu sendiri, karena pada dasarnya para penggagas hanya meredaksikan apa yang menjadi pribadi dan apa yang mencerminkan bangsa Indonesia dulu, kini, dan nanti. Pancasila juga (dalam konteks kenegaraan) merupakan agama bagi Indonesia.
Pancasila
seharusnya tidak perlu diperdebatkan lagi dengan hal sepele karena pancasila
adalah hal fundamental yang “saklek” seperti misalnya ada yang mengatakan bahwa
ketika kita memilih langsung maka sila ke-empat tidak dijalankan atau jika
ingin mengadakan pemilihan langsung, maka ubah dulu Pancasila. Menurut saya
pernyataan seperti itu tidak relevan, bahkan terkesan bahwa mereka ingin
‘menjajah’ bangsa sendiri dan ini hal ini sama seperti apa yang Presiden
Soekarno nyatakan “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu
akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri” dan benar adanya bahwa yang
memiliki wewenan dilegislatif sana sudah mulai kehilangan ‘akal sehat’-nya
dalam menetapkan dan melaksanakan kebijakan.
Beberapa
waktu lalu, RUU Pilkada Tak langsung telah disahkan oleh DPR, dengan aksi drama
WO Partai Demokrat. Dengan perolehan voting sebanyak 135 suara untuk Pilkada Langsung, dan 226 suara
untuk Pilkada Tidak Langsung. SBY sebagai presiden pun disalahkan dalam hal ini,
dikatakan dalang RUU Pilkada Tidak Langsung dan sebagainya, dan SBY pun membela
diri dengan mengatakan prihatin, kecewa dengan hasil sidang tersebut, yang
menghasilkan RUU Pilkada Tidak Langsung dan sebagainya. Sekarang SBY sudah tiba
kembali ke Tanah Air karena sebelumnya ada kunjungan kenegaraan ke beberapa
negara. Dalam kasus ini, bagaimana
seorang Presiden sampai hati melihat rakyat dirampas haknya? dan sebagai
seorang presiden pun saya yakin beliau
Minggu, 28 September 2014
Yakin Usaha Sampai
Belum genap satu bulan saya menjadi mahasiswa, jenuh dengan hanya berkutat pada dosen dan tugas sudah mulai terasa, bahkan meskipun dibantu dengan menghadiri berbagai seminar atau kuliah umum, tetap saja jenuh itu tidak hilang, belum lagi hanya mentok pulang ke kamar kost mengurusi pakaian kotor. Maka saya bertanya dalam hati, jika jenuh ini dibiarkan menjamur dan kegiatan monoton yang tidak produktif ini saya biarkan, hendak menjadi apa saya? karena pada nyatanya, merasa nyaman pada zona aman adalah ancaman untuk jiwa yang ingin berkembang dan maju.
Mungkin
karena terlalu lama nyaman di dalam zona nyaman, saya banyak
berspekulasi tetang bagaimana perkuliahan nanti? apakah akan padat
seperti yang dikeluhkan kakak-kakak kelasku yang baru lulus dari SMA
sebelumnya? atau malah lebih banyak waktu luangnya? Apakah organisasi
diluar kampus bisa saya jalankan? Jika saya berorganisasi, bagaimana
dengan kuliah saya sedangkan saya harus menjadi apa yang saya inginkan?
Sejak
SMP hingga SMA (sebelum spekulasi tentang perkuliahan itu datang) saya
tebiasa dengan organisasi, bukan hanya karena selain lahir di lingkungan
organisatoris, melainkan menurut saya berorganisasi adalah suatu cara
bagaimana saya bisa menjadi "saya" seutuhnya, karena di dalam organisasi
saya belajar tentang bagaimana bersosialisasi
Berlabel Pancasila
Indonesia, negara kesatuan yang
memiliki keragaman suku dan budaya serta dengan wilayah yang luas mampu
mendemokratisasikan diri dan mampu mentoleransi segala perbedaan, bahkan
menduduki peringkat pertama negara penduduk islam terbanyak dan terdemokrasi di
dunia. Pencapaian ini tentunya berasal dari pemikiran-pemikiran yang
direalisasikan serta diaplikasikan dengan komitmen masyarakat dan pemerintah
sehingga terjadi demokrasi di Indonesia hingga kini. Pembukaan undang-undang
dasar 1945 menyebutkan bahwa salah satu tujuan bangsa Indonesia adalah
“…mencerdaskan kehidupan bangsa …” dan salah satu buktinya adalah mendidik
putra-putri penerus bangsa dengan pendidikan-pendidikan berasaskan moral
pancasila dan pengetahuan tentang kenegaraan.
Pada masa orde baru, sangat menjunjung
tinggi nilai-nilai pancasila, tetapi mengapa banyak daripada aktivis yang
hilang tiba-tiba setelah mempubikasikan kritiknya terhadap pemerintah?
Bagaimana pendidikan berasaskan moral dan pengetahuan tentang negara diamalkan?
Pendidikan kewarganegaraan pada masa itu sebenarnya ada dan diadakan untuk
pembelajaran di sekolah serta diberlakukan ujian tulis bagi pejabat negara.
Namun, pada praktiknya pendidikan kewarganegaran pada masa itu sekadar membaca
dan mendengarkan saja dengan muatan indoktrinasi,
pencitraan
Sabtu, 21 Mei 2011
KH Noer Alie
Kamis Malam Jum'at pada tanggal 19 Mei 2011...aku ikut pengajian di Masjid Jami Nurul Khair Babelan Bekasi, ini adalah kali pertamaku mengaji dan belajar langsung dengan guru hebat yang selalu ingin aku memiliki kesempatan untuk belajar dengan beliau...yaitu KH Nurul Anwar, dan yang belum kesampaian adalah belajar langsung dengan saudara beliau KH Amin Noer, keduanya ialah putra dari KH Noer Alie guru yang aku sangat kagumi meski tak pernah secara langsung belajar dengan beliau, namun abahku sering sekali bercerita tentang guru yang selalu akan aku kagumi itu, KH Noer Alie. Aku pernah mendengar suara beliau di sebuah situs yang secara khusus memutarnya, beliau sedang mengajar mengaji disebuah majlis taklim, subhanallah, tak terbendung rasanya perasaan kagum kepada beliau sehingga merinding aku mendengarkan, kupandang abahku yang menutup mata seolah kembali kemasa dimana beliau sedang menghafal dihadapan pak kiai, dimana ketika pak kiai memberikan nasihat nasihat, aku meraskan betapa kuat rasa rindu yang ada didalam hati abahku akan sosok guru yang menakjubkan ini.
Jujur,
Langganan:
Postingan (Atom)





