Belum genap satu bulan saya menjadi mahasiswa, jenuh dengan hanya berkutat pada dosen dan tugas sudah mulai terasa, bahkan meskipun dibantu dengan menghadiri berbagai seminar atau kuliah umum, tetap saja jenuh itu tidak hilang, belum lagi hanya mentok pulang ke kamar kost mengurusi pakaian kotor. Maka saya bertanya dalam hati, jika jenuh ini dibiarkan menjamur dan kegiatan monoton yang tidak produktif ini saya biarkan, hendak menjadi apa saya? karena pada nyatanya, merasa nyaman pada zona aman adalah ancaman untuk jiwa yang ingin berkembang dan maju.
Mungkin
karena terlalu lama nyaman di dalam zona nyaman, saya banyak
berspekulasi tetang bagaimana perkuliahan nanti? apakah akan padat
seperti yang dikeluhkan kakak-kakak kelasku yang baru lulus dari SMA
sebelumnya? atau malah lebih banyak waktu luangnya? Apakah organisasi
diluar kampus bisa saya jalankan? Jika saya berorganisasi, bagaimana
dengan kuliah saya sedangkan saya harus menjadi apa yang saya inginkan?
Sejak
SMP hingga SMA (sebelum spekulasi tentang perkuliahan itu datang) saya
tebiasa dengan organisasi, bukan hanya karena selain lahir di lingkungan
organisatoris, melainkan menurut saya berorganisasi adalah suatu cara
bagaimana saya bisa menjadi "saya" seutuhnya, karena di dalam organisasi
saya belajar tentang bagaimana bersosialisasi
dengan hati, makhluk, dan Sang Pencipta. Namun, seperti yang saya sebutkan tadi, ketika masuk dan diterima di UIN Syarif Hidayatllah Jakarta jurusan Hubungan Internasional, pemikiran dan penggambaran akan tugas serta tuntutan kemampuan di bidang yang saya ambil sangat mempengaruhi hati saya untuk mengatakan tidak pada organisasi saat ini, karena akan mengganggu perkuliahan yang menurut saya lebih penting. Tetapi, penggambaran awal tentang tugas yang pasti akan menyita banyak waktu hingga sulit dalam beraktivitas diluar kampus ternyata terbantahkan hanya dalam waktu satu minggu setelah awal mulai perkuliahan.
dengan hati, makhluk, dan Sang Pencipta. Namun, seperti yang saya sebutkan tadi, ketika masuk dan diterima di UIN Syarif Hidayatllah Jakarta jurusan Hubungan Internasional, pemikiran dan penggambaran akan tugas serta tuntutan kemampuan di bidang yang saya ambil sangat mempengaruhi hati saya untuk mengatakan tidak pada organisasi saat ini, karena akan mengganggu perkuliahan yang menurut saya lebih penting. Tetapi, penggambaran awal tentang tugas yang pasti akan menyita banyak waktu hingga sulit dalam beraktivitas diluar kampus ternyata terbantahkan hanya dalam waktu satu minggu setelah awal mulai perkuliahan.
Saya
menemui beberapa senior dari berbagai organisasi intra maupun ekstra,
mereka banyak bercerita tentang pengalamannya berorganisasi dan masih
bisa mendapatkan nilai lebih daripada apa yang ia perkirakan, bahkan ada
beberapa organisasi yang hampir seluruh anggotanya memiliki IPK tidak
kurang dari 3,5. Tidak hanya tentang penilaian di kampus atau pengalaman
organisasi, melainkan dengan teebentuknya karakter dan terbentuknya
jaringan. Disini, salah satu organisasi yang bisa menjadikan anggotanya
berintelektual tinggi, membentuk karakter, dan memperbanyak jaringan
adalah Himpunan Mahasiswa Islam atau disingkat HMI. Semua organisasi
pasti memiliki ciri khas masing-masing, tetapi yang membuat saya
tertarik adalah orang-orang yang ada didalamnya serta orang-orang yang
telah berhasil berproses didalamnya. Selain itu ada hal yang membuat
saya yakin dengan pilihan saya ketika saya bercakap-cakap dengan seorang
yang menurut saya cerdas dan bijaksana, "berorganisasilah dengan hati,
maka kamu harus memilih organisasi tersebut sejak awal dengan hati,
apapun pilihanmu, pastikan bukan sebuah paksaan atau doktrinasi, ketika
kamu telah memilih, pastikan pilihanmu itu kamu jaga, kamu isi dengan
segenap kemampuanmu, karena itu tanggung jawabmu". Selain itu, saya
membaca sekilas tentang sejarah beberapa organisasi sejenis yang ada,
setelah mempertimbangkan, disitulah saya mengikuti hati saya memilih
HMI, bukan karena organisasi lain tidak baik, tetapi hati saya tanpa
paksaan dan tanpa doktrinasi memilih HMI.
Hari
ini adalah hari terakhir HMI Komisariat FISIP UIN Syarif Hidayatullah
mengadakan LK 1 (Latihan Kader 1) tahun 2014 yang diadakan di daerah
Depok. Sebelumnya saya memang sudah membaca sejarah beberapa organisasi
yang ada, namun setelah mengikuti penjelasan Sejarah HMI
pada LK 1 HMI, saya semakin memahami mengapa perlu didirikannya HMI, 9
materi lain yang disampaikan sejak Kamis (25/9) lalu juga semakin
meyakinkan saya akan pilihan yang saya ambil dan harus saya pertanggung
jawabkan nanti.
Sejak
awal penjelasan mungkin teman-teman ada yang berpendapat bahwa saya
berorganisasi hanya untuk mengisi kekosongan dan menghilangkan kejenuhan
saja.Tidak masalah berpendapat seperti itu karena saya akan
mengiyakannya jika saja saya tidak memilih HMI sebagai organisasi
pilihan saya, dan semakin mantap pilihan itu bahwa HMI dengan mulia
memiliki ideologi (tidak merubah kedudukan Pancasila tentunya) yang
berintikan Iman, Ilmu, dan Amal, dijabarkan melalui Nilai-Nilai Dasar Perjuangan atau disingkat NDP.
Pemikiran-pemikiran
tentang nilai kepercayaan, nilai kemanusaan, dan 6 nilai lainnya
semakin mengenalkan siapa saya dan apa sebenarnya tujuan saya hidup,
serta yang terpenting adalah semakin menguatkan iman saya, menurut
nilai-nilai yang dijabarkan di NDP itu, setelah kita memiliki iman
(meskipun tidak sesempurna Nabi Muhammad SAW) kita dapat memiliki ilmu
dengan baik dan akan dengan mudah mengamalkannya. Itulah 'goal' dari
segala mimpi saya, pengamalan terhadap ilmu yang saya miliki, sesuai
pula dengan doa yang selalu saya panjatkan selepas sholat yaitu
bermanfaatnya apa yang saya dapat agar dapat menjadi manusia seutuhnya
"rahmatan lil'alamin".
Dengan
ini, dengan kesungguhan hati saya bertekad ingin menjadi insan
akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggung
jawab atas terbentuknya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.
Tentunya keyakinan ini harus diusahakan agar sampai... YAKUSA!

0 comments:
Posting Komentar